Kemenkes Gandeng Perusahaan AS untuk Kembangkan AI Penentu Terapi Kanker

Kementerian Kesehatan menggandeng perusahaan Amerika untuk menghadirkan kecerdasan buatan (AI) guna membantu diagnosis dan rekomendasi terapi kanker secara lebih presisi.

MoU Signing Ceremory Kemenkes dengan Perthera dan PathGen di Hotel Fairmont Jakarta
Sumber: youtube/MetroTV 

Jakarta — Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes) resmi menjalin kerja sama dengan Perthera, sebuah perusahaan onkologi berbasis kecerdasan buatan (AI) dari Amerika Serikat, guna mengembangkan sistem teknologi medis yang dapat membantu memberikan rekomendasi diagnosis, terapi, dan pengobatan kanker secara lebih tepat sasaran.

Kerja sama ini diambil mengingat keterbatasan teknologi medis berbasis AI di Indonesia, terutama dalam menangani penyakit kompleks seperti kanker. Direktur Jenderal Farmasi dan Alat Kesehatan Kemenkes, Lucia Rizka Andalucia, menyampaikan bahwa karakteristik setiap pasien berbeda-beda, sehingga pendekatan pengobatan juga harus disesuaikan dengan kondisi individu masing-masing.

“Masing-masing pasien itu mempunyai karakteristik yang berbeda-beda. Treatment-nya harus sesuai dengan individunya, dengan kondisinya, klinisnya, penyakitnya, dan juga stadiumnya,” ujar Lucia kepada media di Hotel Fairmont, Jakarta, Senin (12/5/2025).

Lucia menambahkan bahwa kolaborasi dengan perusahaan seperti Perthera memungkinkan Indonesia untuk mengikuti perkembangan teknologi global, termasuk pemanfaatan AI dalam sistem pelayanan kesehatan. Dengan pendekatan ini, pasien di Indonesia diharapkan dapat memperoleh standar perawatan setara dengan negara-negara maju.

“Dengan teknologi dan pemanfaatan AI ini, pasien kanker bisa mendapatkan perawatan dengan standar global,” jelasnya.

Dalam kesempatan yang sama, CEO PathGen, dr. Susanti, menyoroti potensi efisiensi biaya dari penggunaan AI dalam penanganan kanker. Menurutnya, sistem ini memungkinkan dokter memberikan rekomendasi obat yang lebih akurat, sehingga biaya pengobatan dapat ditekan.

“Cost-nya juga bisa direduksi, dikurangi, karena obat yang dipilihkan nanti lebih tepat,” ujar dr. Susanti. Ia memperkirakan bahwa penggunaan AI dapat menurunkan biaya pengobatan pasien hingga 30 persen.

Teknologi AI dari Perthera diharapkan dapat menjadi bagian dari transformasi digital sistem kesehatan nasional, mendukung program deteksi dini kanker, dan memperluas akses terhadap terapi yang berbasis bukti klinis.

Kemenkes menekankan bahwa meskipun AI berperan penting dalam rekomendasi medis, keputusan akhir tetap berada di tangan tenaga medis yang mempertimbangkan nilai-nilai etis dan kemanusiaan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Metropole XXI: Menelusuri Sejarah Bioskop Tertua di Jakarta

Warung Kenyang: Hidden Gem Kuliner Viral di Tengah Gang Sempit Jakartal

Pramuka Jakarta Gaspol! Siapkan 184 Kegiatan untuk Cetak Generasi Tangguh