Metropole XXI: Menelusuri Sejarah Bioskop Tertua di Jakarta

Gedung Metropole XXI di kawasan Cikini, Jakarta Pusat, merupakan bioskop tertua di ibu kota yang masih beroperasi hingga kini. Diresmikan pada 1951, bangunan ini telah menjadi saksi sejarah perkembangan perfilman nasional sekaligus ditetapkan sebagai bangunan cagar budaya oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.

 Gedung Bioskop Metropole XXI

Jakarta — Di tengah hiruk-pikuk ibu kota Jakarta yang terus berkembang pesat, berdiri sebuah bangunan bersejarah yang tetap teguh mempertahankan eksistensinya. Gedung Metropole XXI, yang terletak di persimpangan Jalan Pegangsaan dan Jalan Diponegoro, kawasan Cikini, Jakarta Pusat, tidak hanya dikenal sebagai bioskop, tetapi juga sebagai peninggalan budaya yang mencerminkan perjalanan panjang dunia hiburan di Indonesia.


Awal Berdiri dan Gaya Arsitektur

Gedung bioskop ini mulai dibangun pada 11 Agustus 1949 dan resmi dibuka untuk umum pada tahun 1951. Saat itu, namanya adalah Bioscoop Metropool, mengikuti ejaan bahasa Belanda yang masih lazim digunakan pada masa kolonial. Arsitektur bangunan ini dirancang oleh Liauw Goan Seng, seorang arsitek keturunan Tionghoa, yang mengadopsi gaya Art Deco, yakni gaya arsitektur yang dikenal dengan bentuk geometris sederhana dan elegan.

Peresmian gedung bioskop ini menjadi peristiwa penting pada masanya. Film pertama yang diputar adalah Annie Get Your Gun (1950), dan acara pembukaannya dihadiri oleh tokoh-tokoh penting, seperti Rahmi Rachim (istri Mohammad Hatta), Sultan Hamengkubuwono IX, dan Haji Agus Salim. Hal ini menunjukkan bahwa sejak awal, Metropole sudah menjadi simbol prestise dan kemajuan hiburan modern di Jakarta.


Perjalanan Nama dan Kepemilikan

Seiring perubahan zaman dan kondisi politik, Metropole mengalami beberapa kali perubahan nama. Pada tahun 1960, Presiden Soekarno mengganti nama Metropole menjadi Megaria dalam rangka menghapus nuansa asing dan memperkuat jati diri nasional. Nama Megaria terus melekat hingga era 1990-an dan sempat populer dengan sebutan “Bioskop Megaria”.

Pada tahun 1989, gedung ini mulai disewa oleh jaringan bioskop 21 Cineplex. Namanya pun berubah menjadi Metropole 21, lalu Megaria 21, dan akhirnya pada tahun 2008 berganti menjadi Metropole XXI di bawah pengelolaan Cinema XXI. Meskipun terjadi banyak perubahan manajemen, gedung ini tetap mempertahankan fungsi utamanya sebagai bioskop.


Status Cagar Budaya

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menetapkan Gedung Metropole sebagai bangunan cagar budaya kelas A melalui Surat Keputusan Gubernur No. 475 Tahun 1993. Penetapan ini bertujuan untuk menjaga keaslian bentuk bangunan, khususnya pada bagian fasad, atap, dan ornamen khas era kolonial. Oleh sebab itu, meskipun telah mengalami renovasi modern, ciri khas bangunan tetap dipertahankan.

Interior gedung kini dilengkapi teknologi modern, seperti layar digital, tata suara surround, dan kursi nyaman. Namun, suasana klasik tetap terasa, menjadikan Metropole XXI sebagai bioskop dengan nuansa berbeda dibandingkan gedung-gedung bioskop modern lainnya.


Lebih dari Sekadar Bioskop

Kini, Metropole XXI tidak hanya berfungsi sebagai tempat pemutaran film, melainkan juga sebagai pusat budaya dan kuliner. Di kompleks gedung ini terdapat beberapa restoran legendaris, seperti Pempek Megaria dan Ayam Kambal Ijo, yang sudah menjadi bagian dari sejarah tempat tersebut.

Bioskop ini juga sering dijadikan lokasi pemutaran film independen, festival film nasional, serta ajang diskusi perfilman. Peran aktif ini membuat Metropole XXI tidak hanya hidup dalam sejarah, tetapi juga tetap relevan di tengah dinamika budaya masa kini.



Metropole XXI adalah lebih dari sekadar tempat hiburan. Ia adalah saksi perjalanan sejarah Jakarta dan perkembangan industri perfilman Indonesia. Keberadaannya yang tetap lestari hingga kini menunjukkan keberhasilan dalam menggabungkan pelestarian warisan budaya dengan kebutuhan hiburan modern. Bagi warga Jakarta maupun wisatawan, Metropole XXI adalah destinasi yang menyuguhkan pengalaman menonton film yang unik—penuh nostalgia, nilai sejarah, dan sentuhan kemewahan klasik yang tak lekang oleh waktu.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Warung Kenyang: Hidden Gem Kuliner Viral di Tengah Gang Sempit Jakartal

Pramuka Jakarta Gaspol! Siapkan 184 Kegiatan untuk Cetak Generasi Tangguh